Welcome to my website !

Authentic Happiness

The Happiest Place On Earth...

Kata-kata yang sudah sangat mendunia itu ternyata memang benar adanya. Mengunjungi Disneyland untuk pertama kalinya dan merasakan langsung atmosfir dari tempat ini adalah suatu kebahagian untuk saya dan adik-adik. Kesampingkan urusan umur, karena tempat ini memang akan membawa kita ke beberapa tahun belakang. Kalau ditanya throwback, tentu jawaban saya "Ya!!!", karena waktu kecil dulu saya memang pecinta berat film-film, tokoh bahkan lagu-lagu dari film Disney. Mungkin bukan hanya saya yang merasakan masa-masa itu, tapi masa kecil semua orang juga pernah bahagia dengan kehadiran film-film legendarisnya, seperti Cinderella dan Beauty and The Beast.
Antusiasme saya sudah tertanam jauh sebelum saya menginjakan kaki disini, saya sudah membayangkan bagaimana serunya menghabiskan waktu seharian di Disneyland bersama adik-adik saya.

Menurut saya mengelilingi dan mencoba semua permainan yang ada didalam taman bermain ini tidak cukup hanya satu hari. Saya memulai perjalanan dari jam 8 pagi, perjalanan ke Disneyland dari Shibuya memakan waktu sekitar 1 jam menggunakan kereta. Setelah keluar dari stasiun kereta, kami telah sampai di Disney Resort. Terdapat dua jalan yaitu ke DisneySea atau Disneyland, untuk sampai didepan gerbang Disneyland, pengunjung bisa menggunakan kereta khusus Disney yang tersedia tapi karena kami terlalu semangat alhasil kami gak pakai kereta dan jalan kaki cukup jauh.

Untuk tiket masuk, kami membeli langsung dikios-kios yang terdapat digerbang utama. Satu tiket untuk orang dewasa dan 1 hari (one day passport) pada saat itu (Februari 2016) sekitar 6,900 yen jika dirupiahkan sekitar IDR880,000an. Sebenarnya beli tiket langsung ditempat juga gak masalah, tapi kadang ada antrean yang cukup panjang apalagi kalau pas liburan anak sekolah di Jepang, tiket online pun bisa habis terjual. Saya sarankan untuk datang pagi-pagi sekali, lebih baik beberapa menit sebelum Disneyland dibuka (Disneyland Tokyo buka dari jam 8 pagi sampai 10 malam). Tapi kalau gak mau ribet dan antre, kamu bisa membeli tiket Disneyland secara online harganya pun sama aja, jadi nanti tinggal print atau tunjukan e-ticketnya kepada petugas digerbang utama. 
Ada banyak permainan seru di Disneyland, mulai dari permainan untuk Balita sampai yang lumayan menantang. Tapi kalau kamu membayangkan permainan yang memacu adrenalin sepertinya salah tempat deh, karena permainan di Disneyland kebanyakan memang untuk anak-anak, seperti carousel, istana boneka, nonton pertunjukan atau naik perahu.

Saya dan adik-adik merasa kurang waktu saat berada ditaman bermain ini dan kita juga tidak terlalu banyak main permainannya karena cuaca pada saat itu super duper dingin, anginnya juga kencang, alhasil kita kebanyakan ngumpet di resto dan duduk-duduk karena kedinginan. Tapi kami sangat excited untuk mencoba semua permainan meskipun pada akhirnya gugur juga karena kaki kita pegal kelamaan berdiri, lol. Sejujurnya, hal yang paling saya senangi bukan nyoba semua permainannya atau pada saat saya melihat Princesses secara langsung, tapi quality time yang saya dan adik-adik habiskan di Disneyland adalah hal yang paling berharga.
Pengunjung yang bersiap untuk nonton parade
Saya sedikit kaget dengan pengunjung yang datang ke Disneyland, ternyata antusiasme mereka lebih parah berkali-kali lipat dibanding saya. Saya melihat banyak orang yang antre untuk minta berfoto bersama dengan tokoh-tokoh Disneyland itu, ya, saya pun melakukan hal itu, tapi banyak juga yang sampai minta tanda tangan malah sampai nangis histeris karena mereka sangat senang melihat tokoh-tokoh Disney secara langsung. Selain itu, memperhatikan orang-orang yang datang ke Disneyland menjadi keseruan sendiri karena banyak banget orang yang super niat untuk bergaya ala tokoh Disney ataupun berpakaian seragam dengan teman-temannya. 
Disneyland Tokyo biasanya mengadakan parade setiap hari selama dua kali, yaitu siang (greetings parade) dan malam hari (Electrical Parade) yang disambung dengan pertunjukan kembang api di istana utama (Sky High Wishes). Beruntungnya, pas saya kesana sedang ada Frozen Fantasy Parade yang selalu dihadirkan pada saat musim dingin saja. Frozen Fantasy Parade ini menampilkan tokoh-tokoh dari film Frozen seperti Anna & Elsa, oh ya, parade ini juga tidak hadir sepanjang tahun loh hanya ada setiap bulan Januari sampai Maret saja. Untuk parade biasanya sudah terjadwalkan dan jam-jamnya terdapat di brosur Disneyland yang bisa kita dapatkan di kios pembelian tiket. 

Parade-parade yang dihadirkan di Disneyland rata-rata berdurasi 15-45 menit. Biasanya 15 menit sebelum dimulai, banyak pengunjung yang sudah duduk manis didepan track parade agar mendapatkan tempat yang paling pas untuk nonton dan foto-foto. Nah, untuk kamu yang ingin main wahana secara leluasa, kamu bisa main saat parade dimulai karena dijamin semua wahana bakal sepi dan tidak antre. Tapi saran saya sih setiap ada parade ikut nonton aja, soalnya kapan lagi nonton parade tokoh Disney kalau bukan di Disneyland-nya langsung :D. 

Getting there :
Untuk memudahkan perjalanan, kamu bisa cek terlebih dahulu rute, waktu dan harganya di www.hyperdia.com/en/. Berhubung saya dari Shibuya, cara paling mudah dan paling efisien pastinya menggunakan kereta, saya mulai dari Shibuya Station menuju ke Tokyo Station, setelah itu saya lanjutkan dengan mengganti kereta ke Maihama Station. Maihama Station adalah stasiun terakhir yang kami capai untuk menuju ke Disney Resorts. Untuk perjalanan pulangnya, kami melakukan rute yang sama dan sebaliknya.

Alamat : 1-1 Maihama, Urayasu, Prefektur Chiba

Info :
Jam beroperasi : setiap hari dari jam 8 pagi sampai dengan 10 malam.
Harga tiket masuk : 6,400 yen untuk 12-17 tahun dan 7,400 yen untuk 18 tahun keatas Disneyland Tickets.

Setelah hampir empat bulan lamanya saya gak pernah ngepost di blog ini bahkan bikin draft pun saya juga gak sempat, akhirnya saya kembali lagi dengan banyaaaaaak cerita yang akan saya bagikan. Empat bulan kebelakang, saya disibukan dengan pindahan ke Bali dan sibuk dengan pekerjaan baru saya disini. Persis Juli tanggal 9, saya meninggalkan Bandung dengan perasaan campur aduk, ya sedih tapi senang juga karena akhirnya saya memulai karir dikota yang baru, tinggal sendiri dan menetap (mungkin) sampai beberapa tahun kedepan di pulau ini. Mungkin banyak alasan yang membulatkan tekad saya untuk memilih Bali sebagai tempat memulai karir sekaligus memulai petualangan baru dalam hidup saya. Salah satu alasan terkuatnya karena saya menemukan pekerjaan & hobi saya sekaligus disini, serta atmosfir pulau ini yang memberikan banyak sekali inspirasi kepada saya. Sejujurnya keputusan saya pindah ke Bali bukan keputusan semalam saja, tapi saya memang sudah memikirkan hal ini dari jauh-jauh hari terutama pada saat saya sering bolak-balik liburan dan melakukan kegiatan lainnya di Bali. Bali itu punya cerita sendiri untuk saya, bukan hanya sekedar destinasi liburan atau tempat-tempat yang indahnya saja, tapi jauh kedalam itu saya juga mulai merasa nyaman dan ingin terus pulang ke Bali. Dan pada akhirnya setelah hampir setahun mikirin baik dan buruknya, saya berani juga mengambil langkah yang menurut saya besar untuk pindah ke pulau ini. Pindah bukan hal yang mudah, ada sisi emosional yang harus saya kalahkan sendiri, terutama zona nyaman hidup saya di Bandung. Rumah, orang tua, keluarga dan temen-temen saya adalah hal tersulit yang saya tinggalkan waktu itu, tapi demi masa depan dan karir yang lebih baik, saya harus melangkah ke jalan yang lebih besar dan tidak berkutat di zona nyaman itu.

Minggu pertama saya menetap di Bali, ternyata tidak seberat yang saya pikirkan. Saat itu saya sangat antusias dengan pekerjaan dan tempat tinggal baru saya, tapi kadang saya juga merasa sendiri dan bingung mau ngapain. Bali cukup familier untuk saya, banyak teman-teman bahkan teman terdekat saya pun beberapa tinggal di Bali, jadi mereka adalah my number one support system. Sama halnya dengan kehidupan saya ditempat kerja, saya cepat dapat teman, mereka baik, welcome dan adil kepada saya, saya juga banyak belajar dan terus belajar tentang pekerjaan juga kehidupan di Bali dari mereka semua.

Sampai hari ini, saya masih menikmati hidup saya di Bali. Banyak teman baru, kegiatan baru, tempat baru yang saya datangi, bahkan makanan baru yang sekarang menjadi favorit saya. Sedikit demi sedikit saya belajar memahami sifat dan sikap masyarakat lokal yang pastinya beda dengan kebiasaan orang-orang Bandung. Baik dan buruknya kebiasaan orang disini adalah sebuah proses pembelajaran untuk diri saya sendiri. Untungnya saya gak kena culture shock yang berlebihan sih, mungkin karena dulu sebelum pindah saya juga sering banget bolak-balik ke Bali dan banyaknya support dari teman-teman saya tadi yang sudah lama menetap disini.

Sunsetan selepas pulang kerja :D (lokasi : Warung Pantai, Pantai Batu Belig)

Untuk masalah kerja sambil liburan di Bali, saya bisa berpendapat sendiri. Pas saya cerita ke teman-teman di Bandung bahwa saya akan pindah ke Bali, satu kata yang keluar dari kebanyakan mereka adalah : "Enak banget sih, bisa kerja sambil liburan!". Sebelum saya memulai semua ini, saya juga memang mikir hal yang sama. Dipikiran saya, saya akan setiap hari ke pantai, saya bisa lihat sunset, pulang kerja langsung bisa main, bahkan bisa party setiap hari dan lain sebagainya. Kenyataannya? Ternyata semua itu tidak berlaku sepenuhnya. Saya kerja dari Senin sampai Sabtu, weekday dari jam 9 - 5 dan weekend hanya setengah hari. Seringnya, pulang kerja saya udah capek banget dan bawaannya pengin pulang cepet lalu istirahat. Sabtu & Minggunya? Pun hampir sama, kadang saya mikir untuk memilih istirahat dan leha-leha dikosan dari pada saya harus main keluar. Tapi memang gak selamanya saya juga memilih leha-leha dikosan sih, kadang kalau lagi bosan ya saya memilih untuk jalan-jalan atau cari makanan enak. Tapi dengan semua yang didapat, saya masih bersyukur karna banyak hal baik & nyaman yang bisa saya rasakan. Pulang kerja di Bali, saya gak usah macet-macetan seperti di Jakarta, enaknya lagi jarak antara tempat tinggal dan kantor saya hanya 10 menit saja kalau naik motor. Lalu, kapan lagi istirahat makan siang bisa makan dipinggir pantai? Keluar pintu kantor, saya sudah bisa melihat turis lalu lalang dipinggir jalan. Hal itu semua menjadi energi positif untuk saya, makanya saya bersyukur tinggal dan kerja disini.

Kalau perihal lapangan pekerjaan, kamu pasti sudah bisa nebak kalau saya kerja dimana. Ya, saya kerja di bidang hospitality. Bali memang sangat menonjol dalam bidang pariwisata, tentunya hotel, villa dan lain sebagainya. Kerja di hotel itu menyenangkan banget loh, seperti yang tadi saya bilang diatas bahwa ada beberapa hal yang membuat energi positif saya semakin kuat, seperti melihat antusiasme turis yang datang ke hotel saya untuk liburan. Saya merasa kayaknya seru banget hidup mereka dan tanpa beban, saya suka melihat tamu lalu lalang dengan wajah mereka yang berseri-seri karena mereka datang ke Bali untuk liburan dan bersenang-senang.

Masih dalam topik kerjaan, kalau ditanya berkaitan dengan jurusan kuliah saya memang gak nyambung banget. Saya dulu anak HI (Hubungan Internasional) dengan niatan dan punya cita-cita jadi Diplomat, alasannya biar bisa keliling dunia, that's it. Kenyataanya ternyata gak semudah itu haha, saya orangnya santai banget dan suka ngobrol sama semua orang, kesantaian saya kayaknya menjadikan kegagalan untuk cita-cita Diplomat saya itu. Sempat agak bingung pas lulus kuliah waktu itu, saya kerja dimana ya, saya ambil bidang apa ya, dan lainnya. Sejujurnya saya gak pernah sangka kalau saya akan mengambil bidang hospitality sebelumnya. Hospitality memang fresh dan baru untuk saya, bahkan saya gak pernah tau peluang apa yang bisa saya dapat bahkan apa yang harus dikerjakan dibidang itu sesungguhnya. Semua ini dimulai dengan mengikuti program MT (Management Trainee) disalah satu corporate hotel di Seminyak. Sebagai anak MT saya dilatih secara profesional dan banyak belajar tentang hospitality secara detail dan mendalam juga diharuskan terjun langsung ke setiap divisi yang saya ikuti. Saya bersyukur banget menjalani itu semua, dan ternyata saya juga menyambut dengan baik semua hal yang saya dapat dan pelajari. Lebih dari itu, ternyata orang-orang hotel super seru dan santai, saya banyak nemuin teman-teman seprofesi yang hobi dan antusiasnya kayak saya, yang terpenting, ternyata kerja di hotel itu punya jenjang karir yang menjanjikan, loh :D.
Bagian paling dinanti dari perjalanan saya dan keluarga ke Jepang yaitu mengunjungi Hakone. Tempat ini sudah tertera dalam daftar perjalanan saya jauh-jauh hari sebelum kami datang ke Negeri Sakura itu. Seperti yang banyak orang bicarakan, Hakone adalah salah satu tempat yang wajib untuk dikunjungi karena wisatawan dapat merasakan suasana berbeda dari Kota Metropolitan, Tokyo.  
Stasiun Shinjuku

Secara geografis, Hakone berada di sebelah barat Kota Tokyo yang termasuk ke daerah pegunungan. Hakone juga merupakan tempat terdekat dan paling mudah dijangkau untuk melihat keindahan Gunung Fuji. Sebenarnya ada beberapa titik tempat yang menjadi spot untuk menikmati pemandangan Gunung Fuji, seperti Danau Kawaguchiko, Gotemba dan beberapa lainnya. Saya memilih Hakone karena aksesnya lebih mudah dan rute didalam kawasannya jelas. Dikawasan Hakone, kamu tidak hanya bisa lihat pesona Gunung Fuji dari kejauhan saja, namun bisa juga menikmati Onsen atau pemandian air panas, naik kereta gantung dan belanja di Gotemba yang merupakan premium outlet terkenal di Hakone. 
Perjalanan ke Hakone sebenarnya sangat mudah, karena menurut saya sistem transportasi di Jepang sangat jelas dan aman. Jelas karena saya dapat memperkirakan budget, waktu, rute tujuan sampai dengan letak tempat duduk di kereta. Jadi, sebelum saya datang ke Jepang pun saya sudah bisa memperkiran berapa banyak budget yang harus saya keluarkan untuk transportasi. Setelah saya bertanya-tanya dan membaca beberapa postingan pada blog, akhirnya saya memilih Romancecar sebagai transportasi ke Hakone. Menurut saya menggunakan Romancecar bukan hal yang tepat untuk menekan budget, namun karena waktu yang saya punya hanya sedikit maka saya menggunakan Romancecar untuk menghemat waktu. Selain itu Romancecar juga sangat memudahkan saya dan praktis karena tidak harus berpindah dan berganti kereta, kereta ini hanya berhenti satu kali di Stasiun Odawara dan melanjutkan perjalanan sampai tujuan terakhir di Stasiun Hakone Yumoto.

Untuk pergi ke Hakone menggunakan Romancecar, saya sarankan agar beli tiket sehari sebelum keberangkatan atau beli jauh-jauh hari dengan cara online. Karena kalau kamu berpergian dengan grup atau keluarga posisi duduknya akan misah-misah, dan jam keberangkatannya pun harus diperhatikan karena hanya tersedia pada jam-jam tertentu saja. Seperti saya yang waktu itu traveling berlima dan beli tiket ke Hakone secara mendadak, alhasil kami berlima duduk secara acak, beda kursi dan beda gerbong pula. Menurut saya itu menjadi hal yang cukup sulit, karena kalau kita duduk secara berpisahan akan menyusahkan satu sama lain, seperti dalam hal komunikasi.
Peta Stasiun Pemberhentian Kereta Romancecar (www.odakyu.jp)
Romancecar

Bukan Jepang namanya kalau tidak bersih, semua transportasi umum di Jepang sangat nyaman dan tentunya bersih, didalam keretanya pun sangat teratur. Untuk reserved seat penumpang duduk persis dengan nomor kursi yang tertera pada tiket. Namun jika kamu membeli unreserved seat, kamu bisa duduk dimana saja tentunya digerbong berbeda dengan yang reserved seat, dan kalau kursinya penuh kamu harus berdiri selama perjalanan. Penumpang yang sampai berdiri selama perjalanan biasanya terjadi pada bulan-bulan liburan di Jepang atau pada hari besar (hari raya) saja, karena banyak masyarakat Jepangnya sendiri yang berlibur atau pulang kampung.

Terdapat 3 cara mudah untuk pergi ke Hakone versi saya.
  • Romancecar (2,080 yen)
Saya memilih kereta ini karena lebih cepat dan praktis. Jika kamu tidak menggunakan JR Pass pasti harga tiket yang harus dikeluarkan jauh lebih besar. Kalau tidak menggunkan JR Pass, kamu harus mengeluarkan biaya sebesar 890 yen untuk tiket Romancecarnya plus 1,190 yen untuk tiket reguler, dan jumlahnya 2,080 yen perorang untuk sekali jalan. Berbeda jika kamu punya JR Pass, kamu hanya membayar 890 yen saja.
  • Kereta Reguler (2,000 yen)
Menurut www.hyperdia.com, biaya yang harus dikeluarkan jika saya pergi dari Shibuya (Apartment) ke Hakone sebesar 2,000 yen dengan waktu tempuh sekitar 107 menit dan satu kali ganti kereta.
  • Hakone Free Pass (5,140 yen)
Pilihan terakhir, kalau kamu ingin eksplor Hakone seharian penuh atau lebih, saya sarankan untuk beli Hakone Free Pass yang dapat berlaku selama 2 hari ataupun 3 hari. Harganya juga jauh lebih hemat daripada harga reguler, karena kamu bisa menggunakan semua alat transportasi yang ada di kawasan Hakone seperti Bus, Cable Car, Hakone Cruise dan kereta dengan gratis. Untuk membeli Hakone Free Pass kamu bisa langsung mengunjungi kiosnya di Stasiun Shinjuku atau langsung beli di Ticket Vending Machines.
Peta tempat wisata di Hakone yang dapat dikunjungi dengan menggunakan Hakone Free Pass
Pemandangan diluar Stasiun Hakone Yumoto
Dari stasiun kereta, kami harus melanjutkan perjalanan lagi sekitar 60 menit ke Danau Ashi. Danau Ashi adalah view point untuk melihat keindahan Gunung Fuji dari seberang Danau. Cuaca di Hakone tidak kalah dinginnya seperti di Tokyo, malah lebih dingin karena kami dikelilingi oleh pegunungan. Diluar stasiun, terdapat tourist information yang dapat membantu untuk mengenal kawasan Hakone dan terdapat agen travel yang menawarkan berbagai paket perjalanan disekitar Hakone. Saya memilih ke Danau Ashi karena merupakan titik terbaik untuk melihat pesona Gunung Fuji, selain itu karena waktu kami terbatas dan tidak bisa mengeksplor Hakone lebih jauh lagi, Danau Ashi menjadi pilihan tepat karena jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun kereta utama. Untuk meneruskan perjalanan ke Danau Ashi dari stasiun, saya harus membayar lagi biaya Bus sebesar 960 yen perorangnya.
 Pemandangan disepanjang jalan menuju Danau Ashi

Selama diperjalanan menuju Danau Ashi, saya merasakan kehangatan pedesaan yang masih asli. Di kiri-kanan jalan terdapat rumah-rumah kecil yang tertutup salju dengan gundukan es didepannya yang telah menipis. Semua sudut di Jepang itu memang indah, saya benar-benar jatuh cinta dengan pemandangan disepanjang jalan. Saya juga kaget karena dapat melihat dan merasakan salju untuk pertama kalinya disini. Semakin tinggi Bus melaju menuju kawasan danau, semakin tebal pula gundukan salju diluar Bus, padahal sebelum pergi saya sempat lihat keadaan cuaca di accuweather.com kalau Hakone tidak akan ada salju karena saljunya sudah turun beberapa minggu sebelum kami datang. Kami sangat beruntung dan senang sekali :-).
Akhirnya, Bus sampai didepan Danau Ashi yang terkenal itu. Saya merasa sedikit pusing selama berada didalam Bus karena jalan yang dilalui sangat berkelok-kelok, namun hal itu tidak membuat saya patah semangat untuk melihat-lihat sekitaran danau indah ini. Danau Ashi terbentang cukup luas, namun sejauh mata saya memandang saya belum menemukan sosok Gunung tersebut.

Sebelum melanjutkan perjalanan lagi untuk melihat sosok Fuji, kami menikmati makan siang dulu disalah satu restoran diseberang jalan danau. Dijajaran restoran tersebut, rata-rata menjajakan makanan khas Jepang yang terlihat nikmat, dan saya sempat mencoba makan Shrimp Tempura dan Miso Soup yang hangat. Fyi, harga makanan yang terdapat dikawasan Hakone cukup mahal dibanding dengan harga makan standar di Tokyo, mungkin karena Hakone termasuk kedalam daerah wisata yang dituju banyak wisatawan.
View from The Restaurant
Akhirnya setelah berjalan menyusuri danau, saya bisa lihat keindahan Gunung Fuji yang ikonik itu. Pemandangan Gunung Fuji yang kokoh dengan berlapis salju terlihat samar dari kejauhan. Sayangnya tidak begitu jelas karena cuasa saat itu sedang dingin sekali dan cukup berkabut, kalau kamu mengunjungi Danau Ashi, sempatkanlah untuk naik perahu (Hakone Cruise) yang bisa mengelilingi danau karena kamu akan lebih jelas melihat Gunung Fuji dari jarak yang cukup dekat.

Sayangnya saya tidak bisa berama-lama disini karena adik-adik saya sudah merasa sangat kedinginan dan mulai bosan. Mereka yang lebih tertarik dengan keramaian Harajuku Street pasti tidak betah lama-lama berada di sebuah desa dipinggir Tokyo ini. Kami pulang dengan kereta reguler yang cukup memakan waktu karena banyak berhenti distasiun yang dilalui. Hal yang tidak mengenakannya adalah kami duduk bukan seperti di Romancecar, tapi seperti kereta reguler biasa yang duduk memanjang dan berhadapan.

Tapi secara keseluruhan, meskipun perjalanannya cukup panjang dan menguras tenaga, mengunjungi Hakone cukup memuaskan hati saya karena saya sangat menikmati berada disana dengan pemandangan indah dan cuaca yang jarang saya rasakan, terlebih saya juga melihat salju untuk pertama kalinya disana. Mungkin saya akan kembali lagi kesana dilain waktu :-).

Summary :

  • Shibuya - Shinjuku (5 menit - kereta JR) 160 yen 
  • Shinjuku - Hakone Yumoto (85 menit - Odakyu Romancecar) 890 yen + 1,190 yen = 2,080 yen
  • Hakone Yumoto - Lake Ashi (45 menit - bus) 960 yen
  • Lake Ashi - Odawara (1 jam - bus) 1,000 yen
  • Odawara - Shibuya (1,5 jam - kereta JR) 1,490 yen

Harus diingat untuk selalu memperhatikan waktu / jam kedatangan dan keberangkatan transportasi.
Le Pirate
Cafe ini letaknya agak terpencil dan gak kelihatan dari jalan utama Batu Mejan. Meskipun letaknya yang gak begitu terekspos, tapi cafe ini bagus dan nyaman banget. View laut langsung didapat setelah saya duduk di beanbag yang menghadap ke Pantai Batu Mejan ini. Disini tempat yang sangat cocok buat menikmati sunset, karena Echo Beach adalah salah satu spot terbaik untuk sunset-an.

Awalnya, saya agak bingung ketika lihat desain dan nama dari cafe ini. Cafe ini persis banget kayak Le Pirate yang ada di Nusa Ceningan, setelah saya tanya-tanya ternyata Le Pirate Canggu ini masih sama dengan yang ada di Ceningan, tapi bedanya disana ada fasilitas hotelnya.

Desain dari cafe ini sangat menarik bagi saya, karena warna-warna pastel sangat mendominasi lalu makanannya pun cukup enak terlebih untuk makan malam. Harga yang ditawarkan standar, dari Rp.30.000 sampai dengan Rp.100.000++.
Jl. Batu Mejan, Echo Beach - Canggu, Bali.
www.lepirate-beachclub.com
Letaknya ada diujung Jl. Echo Beach, sebelum pantai belok kiri masuk ke jalan kecil (tapi masuk mobil dan ada parkiran).
Price >Rp.25.000

Ole Ole Ollie
Kalau kalian main ke Echo Beach dan suka dessert, disarankan buat mampir ke salah satu tempat baru di Canggu. Ole Ole Ollie ini adalah sebuah cafe yang punya konsep pastel dan ke-cewek-an banget, meskipun tempatnya kecil dan terkesan kayak berada di halaman belakang rumah, tapi dekorasi dan furniturenya lucu banget. Ada beberapa menu yang enak misalnya, red velvet cupcakes, greentea ice cream dan jus buah yang fresssh! Harga makanan dan minuman disini sebenarnya gak terlalu mahal, untuk cupcakes harganya Rp.20,000an terus ice cream Rp.25,000 dan minuman mulai dari Rp.15,000an.

Tapi buat yang takut sama anjing tidak disarankan buat datang kesini karena banyak banget anjing yang nongkrong diarea cafe. Tempat ini juga menjadi semacam penitipan anjing, disini juga banyak menjual aksesoris anjing seperti baju-bajunya.
Jl. Batu Mejan, Gang Kampung Bali 2 No.2
Echo Beach, Canggu.
Letaknya sekitar 100m dari pantai.
Tlp : +62 361 871 0068
Price >Rp.10.000


Bungalow Living
Pertama kali dengar Bungalow Living, saya langsung mikir kalau tempat ini adalah nama sebuah hotel atau penginapan. Tapi ternyata setelah browsing dan datangi langsung, Bungalow Living adalah sebuah cafe yang homie banget dengan dekorasi pastel di daerah Pantai Berawa yang memiliki konsep healthy foods, vegetarian dan makanan organik. Gak hanya makanannya saja yang mengusung tema sehat, tapi minuman seperti booster juice dan camilannya pun unik dan tentunya sehat.


Untuk harganya menurut saya standar saja, patokan saya kalau bilang harga standar untuk cafe-cafe di Bali kurang lebih Rp.40.000an untuk minuman (jus, kopi smoothies), dan makanan juga harganya kisaran segitu. Disini juga kita tidak sekedar bisa makan dan minum, tapi dekorasi-dekorasi yang lucu-lucu yang ditampilkan juga bisa kita beli loh. Sekarang, Bungalow Living punya toko sendiri yang khusus untuk jual dekorasinya, letaknya ada diseberang jalan cafenya.
Jalan Raya Pantai Berawa No.35, Canggu
IG : @bungalowlivingcafe
Price >Rp.20.000


La Laguna
Cafe yang super fresh dan Instagramable ini lagi digrandungi banget sama anak-anak muda. Gak cuma tamu lokal, tapi tamu asing juga lagi pada sering nongkrong disini. La Laguna adalah grup dari La Vavela dan La Plancha, kalau di lihat-lihat, dekorasi dan tipe-tipe cafenya hampir sama semua, tapi suasananya berbeda di setiap tempat. Selain dekorasinya yang unik, tempat ini juga punya pemandangan yang langsung menghadap ke Pantai Kayu Putih. Tapi saya agak sedikit bingung, jadi Pantai Kayu Putih ini sebenarnya pantai umum yang semua orang bisa datangi kapan aja, anehnya, akses kalau mau ke pantai ini harus melewati area La Laguna. Jadi kalau kalian lagi nongkrong atau makan, banyak orang yang seliweran ke depan meja, apalagi pas jam-jamnya mau sunsetan. Buat harganya cukup mahal buat cafe ini, tapi sebanding sih dengan tempatnya. Tapi yang sangat disayangkan, pelayananya kurang baik. Waktu saya datang kesana sama teman saya bertiga, dari pintu masuk udah banyak pelayan seliweran malah ada yang berdiri didepan pintu masuk untuk mempersilahkan, tapi sayangnya kita gak dilayani. Akhirnya saya masuk dan milih kursi sendiri, terus pas mau order saya udah berusaha manggil-manggil bahkan ada pelayan yang berdiri didepan meja saya tapi dia cuek aja. Alhasil, saya harus samperin mbak-mbaknya kedalam, baru saya bisa order. Saya gak mau cerita banyak tentang pengalaman ini, tapi kalau penasaran datang aja ketempat ini langsung atau tempat yang segrup dengan ini dan coba pengalamannya sendiri :)).

Mungkin untuk kalian yang pernah/sering ke Bali dan mendatangi tempat-tempat baru atau lagi hits which is banyak pengunjung asingnya, atau mungkin pernah diginikan ditempat lain, pasti kalian tau alasannya kenapa :-)
Pantai Kayu Putih

Jalan Kayu Putih, Canggu
Letaknya dekat dengan La Finca.
Price >Rp.40.000

Old Man's
Perkembangan bisnis di Bali sangat pesat, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, setiap datang ke Bali maksimal setahun dua kali pasti udah banyak banget perubahan. Salah satunya adalah tempat ini, cafe yang baru seumur jagung ini udah rame banget dan dikenal banyak orang, kebanyakannya turis-turis asing. Menghabiskan sore disini juga seru banget, bisa lihat matahari tenggelam secara jelas karena cafe ini berhadapan dengan pantai.

Harga yang ditawarkan rata-rata standar cafe di Bali sih, kayak minuman mulai dari Rp.20.000 untuk ice tea dan Rp.35.000 untuk mixed juice. Makanannya juga bervariasi rata-rata western food, harganya Rp.60.000 sampai lebih dari Rp.100.000.

Tempat ini cocok juga untuk membawa anak-anak karena banyak banget anak kecil berkeliaran disini, mungkin salah satu alasannya karena Old Man's ini terletak dekat sekali dengan pantai. 

Oh ya, setiap hari Minggu di minggu terakhir setiap bulannya suka diadakan Sunday Market di Old Man's ini. Banyak barang yang dijual disini, mulai dari makanan, minuman, pakaian sampai barang unik lainnya. Untuk informasi lebih lanjut tentang Sunday Market di Old Man's, kamu bisa baca review saya disini.
Jl. Batu Bolong Beach, Canggu, Bali.
Letaknya berhadapan dengan Pantai Batu Bolong
Ph : +62361 84159
Price >Rp.40.000

Pomelo Cafe
Satu lagi tempat baru yang super nyaman dan homie banget di kawasan Canggu, yaitu Pomelo Cafe. April 2016 lalu, saya dan teman saya mengunjungi Pomelo untuk pertama kalinya dan kita benar-benar merasa nyaman banget. Desain dari kultur Jawa sangat kental tempat ini, dapat dilihat dari banyaknya dekorasi yang mendominasi. Selain itu, harganya juga terjangkau, untuk minuman mulai dari Rp.25,000 dan makanan mulai dari Rp.40,000. Oh ya, disini juga menyediakan smoothies bowl lho yang lagi tren sebagai makanan sehat, harganya pun cukup terjangkau sekitar Rp.60,000.

Tempat ini juga bisa dipakai untuk acara pribadi, misalnya ulang tahun atau acara lainnya. Minggu lalu sebelum saya datang, disini ada acara untuk anak-anak yaitu Mermaid Day. Anak-anak yang datang bisa dipakaikan kostum seperti putri duyung, lalu karena disini ada kolam renangnya, Pomelo juga menyisipkan edukasi kepada anak-anak yakni menghadirkan instruktur berenang. Pokoknya saya merekomendasi sekali tempat ini (bukan iklan berbayar lho) tapi karna saya memang suka banget dengan Pomelo. Kita juga bebas untuk berenang kapan pun, dan pihak cafe juga menyediakan handuk dan showernya.
Jl. Raya Pantai Berawa No.77, Canggu, Kuta Utara
IG : @pomelobali 
Price >Rp.25,000

The Lawn
Sebuah tempat yang beberapa bulan lalu baru dibuka ini menjadi perbincangan hangat diantara wisatawan. Tempat yang berlokasi di pinggir Pantai Batu Bolong ini menjadi salah satu tempat yang pas untuk sunset-an dan menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman-teman. Dengan hamparan rumput hijau yang cukup luas, pengunjung dapat bersantai-santai, duduk dan tiduran diatas karpet rotan yang sudah disiapkan oleh The Lawn. Karena disini bukan cafe atau restoran, jadi menu makanan dan minumannya pun terbatas. Tapi jangan khawatir, disini ada beberapa macam jus yang menjadi favorit pengunjung, juga ada bir dan untuk makanan ringannya ada popcorn yang fresh from the oven.
Jl. Batu Bolong Beach, Canggu
IG : @thelawncanggu
Price >Rp.15,000 - <Rp.100,000

707 Beachberm
Satu lagi spot untuk menikmati sunset dijajaran pantai di kawasan Canggu. 707 Beachberm adalah tempat yang tepat untuk mengajak anak-anak untuk bermain pada akhir pekan. Karena selain menyuguhkan rerumputan yang cukup luas, tempat ini juga berada dipinggir pantai, dan Pantai Batu Belig ini juga termasuk pantai yang aman untuk berenang. Pengungjung yang kesini kebanyakan expat yang tinggal dikawasan Canggu, yang membawa anak-anak ataupun datang sekeluarga. Menurut saya tempat ini sangat nyaman dan santai, tapi sayangnya pengunjung yang kesini kebanyakan membawa Anjing. Jujur, saya sedikit terganggu dengan itu dan merasa kurang nyaman karena jumlahnya yang cukup banyak. Hal itu bukan karena saya takut dengan Anjing tapi karena waktu saya berkunjung kesana ada Anjing (peliharaan) yang dibiarkan berkeliaran disekitar beanbag dan dengan santainya Anjing itu menempel kearah beanbag yang sedang saya duduki lalu buang air kecil persis di belakang beanbag, saat itu juga saya langsung pergi, keluar dari tempat itu.
Jl. Pantai Batu Belig, Kuta Utara
IG : @707beachberm
Price >Rp.20,000

Moya
Cafe yang terletak dikawasan Umalas ini berseberangan dengan villa yang sangat terkenal, The Santai. Cafe mungil yang fresh ini menyuguhkan suasana sawah yang nyaman dan indah. Disini, pengunjung bisa mencoba beberapa menu makanan yang bervariasi, dari mulai Indonesian sampai internasional. Selain itu, ada beberapa dessert juga dan jus segar yang tepat sekali untuk dinikmati pada siang hari.
Jl. Bumbak, Kerobokan, Umalas, Bali
IG : @moyacafe
Price >Rp.25,000